Senin, 03 November 2014

Hakikat Filsafat Administrasi


PENGERTIAN HAKIKAT FILSAFAT ADMINISTRASI DAN TEORI  X,Y dan Z

HAKIKAT ADMINISTRASI
             Pada umumnya hakikat administrasi adalah Mengarah kegiatan-kegiatan kita secara terus menerus menuju ketercapainya tujuan, dan mengendalikan sumber-sumber daya gerak-gerik pemanfaatan sesuai dengan peraturan-peraturan rencana-rencana kita .artinya hahikat adalah suatu kebenaran atau memang benar-benar ada .

FILSAFAT            
               Filsafat administrasi merupakan penggabungan dari dua fenomena penting dalam kehidupan manusia, yaitu pengertian filsafat dan pengertian administrasi. Filsafat merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab, yang juga berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien: gemar,senag atau cinta dan sophia: kebijaksanaan/kreatif. Jadi, filsafat memiliki arti cinta kepada kebijakan kebijaksanaan.

ADMINISTRASI
                Administrasi berasal dari bahasa Latin: Ad = intensif dan ministrate = melayani, membantu, memenuhi. Jadi, administrasi adalah kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan di dalam mencapai suatu tujuan. Filsafat administrasi bisa diartikan sebagai rangkaian aktivitas pemikiran reflektif yang berusaha menentukan segi-segi metafisik, epistemologis, metodologis, logis, etis, dan estetis dari kegiatan administrasi .

TEORI X dan Y
Orang yang memilik sifat buruk ditumbuhkan teori X, dan sehubungan dengan adaya orang yang memiliki sifat baik diciptakan teori Y

Dan dapat dirumuskan”Teori X” yaitu :
Di dalam suatu organisasi para pekerja pada umumnya berusaha bekerja sedikit mungkin, mereka tidak mempunyai ambisi untuk maju, tidak memiliki gairah untuk menemukan cara kerja yang lebih baik, mereka pada umumnya kurang pandai, bekerja secara pasif, senang menghasut, senang menipu diri sendiri, para pekerja melakukan pekerjaan dengan mengutamakan imbalan materi, bekerja hanya berdasarkan perintah, tidak pernah dapat mengemukakan gagasan baru, sering tidak masuk kerja dengan berbagai alas an yang dicari-cari, senang memberikan laporan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Maka pengarahan yang seharusnya dilakukan adalah bersifat keras, hukuman banyak dilakukan terhadap pelanggaran, pengontrolan harus dilakukan secara ketat, dilakukan cara memimpin yang otoriter, sentralistis, tindakan tegas.
Hanya dengan jalan ini organisasi dapat berjalan kearah pencapaian tujuan walaupun dengan susah payah.

Dan dapat dirumuskan“Teori Y yaitu:
Di dalam organisasi para pekerja pada umumnya senang bekerja, mereka merasakan kerja sebagai hobi, bekerja dengan penuh keaktifan, rasa tanggung jawab yangbesar, rajin disiplin, penuh rasa pengabdian, ada gairah untuk maju, selalu berusaha menemukan cara kerja yang lebih baik, banyak gagasan baru dianjukan, para pekerja lebih senang mengarahkan diri sendiri, mengontrol diri sendiri, sehingga pengarahan yang dilakukan lebih bersifat mengikuti, pengontrolan longgar, cara memimpin demokratis, banyak pelimpahan wewenang, banyak mengikut sertakan bawahan dalam mengambil keputusan.
                                                    

TEORI Z
Dan apabila semua produktivitas akan meningkat yang melibatkan semua pekerja dalam kondisi kerja yang baik, maka pengarahan yang dilakukan sebaiknya mengambil segi baik dari teori X dan teori Y.

Pada hakikatnya seorang pemimpin memang harus menggunakan cara halus, hanya sedikit mengontrol, memerintah dengan sikap permintaan, saran ataupun sukarela, lebih bersifat menanyakan atau lebih banyak menanya dari pada menegur, pada lain kesempatan seorang pemimpin harus berani bertindak tegas, melakukan control secara ketat, memberi  perintah tegas, menyalahkan, dan bahkan bila terpaksa harus berani menghukum sesuai dengan kesalahan yang dibuat oleh bawahannya.
Baik secara halus maupun secara tegas kedua-duanya dilandasi suatu harapan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.


DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
             teori X ,Y dan Z ini dalam kehidupan terdapat orang yang bersifat baik dan orang yang memiliki sifat buruk.Tetapi dalam kenyataannya sebenarnya tidak ada orang yang baik mutlak demikian pula tidak ada orang yang buruk mutlak.
Dengan kata lain tidak ada orang yang memiliki sifat ekstrem. Pada umumnya orang akan memiliki sifat keduanya,contoh orang yang memiliki sifat keduanya :
“disetiap kebaikan selalu saja ada kejelekan. Karena didalam kebaikan yang tidak dijalankan dengan amanah yang benar maka timbulnya kejelekan atau adanya kejelekan”.